Wajah saya adalah tipe wajah yang oily, sangat berminyak. Tapi apakah dengan kulit wajah yang berminyak, saya tidak memerlukan pelembab wajah sebelum memakai makeup? Banyak yang bilang tekstur wajah berminyak itu sudah lembab, tidak perlu diberi pelembab lagi. Menurut saya, dengan tidak memakai pelembab wajah (saya sudah pernah mencoba), wajah saya terlihat kusam. Sudah banyak kok pelembab wajah yang diperuntukkan untuk kulit berminyak, normal, dan kering. Jadi, coba searching dan cocokkan dengan tipe kulit kalian ya ladies..

Salah satu pelembab wajah yang saya suka adalah dari Citra Korean Pink Orchid UV Moisturizer.

Detail produk:

Ketika kuncup mekar menjadi bunga, dan semburat warna merah muda perlahan menyebar hingga ke kelopak bunga, merupakans ebuah keindahan tersendiri. Citra menghadirkan kilau yang lembut dari Korean Pink Orchids. Rasakan kelembutan yang bekerja dari dalam, memberikan wajah yang tampak putih berkilau. Perpaduan UV protectionnya (UVA & UVB) membantu melindungi kulit dari sinar matahari yang dapat menyebabkan bintik hitam dan kulit gelap. 



Kemasan:

Saya awalnya beli yang sebelah kiri yang kemasan tube, setelah habis saya memutuskan beli yang kemasan jar. Saya tidak tahu sih yang tube itu maksudnya kemasan yang kecil dan jar kemasan besar atau gimana. Tapi jika ada kemasan tube yang besar, saya akan memilih tube. Karena saya kurang suka jar, kurang higienis aja menurut saya, harus colek colek menggunakan tangan. Tapi packaging keduanya saya suka, yang jar seperti elegan dan warnanya cantik. Untuk tube, mudah dibawa kemana-mana.

Citra Korean Pink Orchid UV Moisturizer


Tekstur & aroma:

Teksturnya berbentu krim dan tidak lengket. Saya suka banget karena hasil di wajah saya adalah matte dan efeknya mencerahkan juga setelah dipakai. Aromanya juga hampir mirip dengan pelembab wajah Garnier yang Sakura White, soft dan aroma bunganya terasa sekali, saya yang mencium juga merasa nyaman.

Teksturnya berbentuk krim

Teksturnya setelah ditaruh di kulit, setelah dibaurkan warnanya akan berbaur dengan kulit

Efek mencerahkannya hanya pada saat saya memakai produk ini, saya sendiri sudah memakai produk ini sekitar 2-3 mingguan, tapi belum ada efek mencerahkan sampai saat ini. Ini adalah pelembab wajah yang paling saya suka diantara pelembab wajah yang saya pakai sebelumnya. Saat memakai ada efek mencerahkan seperti primer, hasilnya matte, dan tidak membuat wajah kusam.

Harga: Rp. 30.000
Beli di: Watson Citraland Mall

Love:
- Hasilnya matte
- Aroma bunganya menenangkan
- Harganya murah
- Membuat wajah tidak kusam
- Mencerahkan wajah
- Tidak menimbulkan jerawat di kulit saya

Hate:
- Untuk kemasan jar, kurang higienis

Repurchase: Yes
Rating: 8,5/10

Terimakasih sudah mampir, sampai jumpa di post selanjutnya!^^






Director:
Brad Peyton

Writers:
Carlton Cuse (screenplay), Andre Fabrizio (story)

Stars:
Dwayne Johnson, Carla Gugino, Alexandra Daddario



Sinopsis:

Film ini mengisahkan tentang bencana gempa bumi yang terjadi di California, Los Angeles. Ray adalah seorang pilot helikopter yang termasuk dalam regu penyelamat. Ray memiliki seorang putri yang bernama Blake yang sedang berada di California ketika bencana gempa bumi terjadi. Ray dan mantan istrinya, Emma, melakukan penyelamatan untuk Blake yang dipercaya sedang bertahan hidup dalam bencana gempa bumi tersebut.



Review:

Terakhir kali saya nonton disaster movie adalah "Into The Storm" yang membuat saya terkesima oleh efek khususnya. San Andreas juga melakukan hal yang sama, kita akan dibuat harap harap cemas dari awal film dimulai. Adegan dimana Dwayne menyelamatkan seorang gadis yang terjebak didalam mobil yang berada di tebing sempit. Saya adalah orang yang tidak kuat sama disaster movie, karena saya tinggal di pinggir pantai. Saya udah pernah merasakan evakuasi ke gunung karena ada isu tsunami. Setiap hari saya selalu harap harap cemas ketika sedang berada di rumah. (curhat sedikit)



Brad Payton menyutradarai film-film tidak populer, seperti Journey 2: The Mysterious Island atau Cat & Dogs: The Revenge of Kitty Galore. Tapi untuk San Andreas, saya dibuat kagum dari awal film hingga akhir film. Ceritanya umum ya seperti film-film disaster lainnya, orang tua heroik menyelamatkan anaknya, seperti "The Day After Tomorrow". 




Banyak tidak masuk akalnya sih, tapi setiap saya melihat disaster movie saya memang tidak terlalu memperdulikan soal cerita, saya hanya menikmati dahsyatnya bencana alam melalui efek-efek khusus. Kalau diingat, saya juga sebenernya geli juga melihat kehebatan duo Dwayne dan Carla ini menembus bencana yang teramat dahsyat itu dengan hanya luka lecet saja. Porsi drama keluarga, sisi humanis seseorang, dan dahsyatnya bencana terasa pas sekali. Jika kalian sedang berada dalam situasi seperti itu, apakah kalian akan memikirkan orang lain? atau memikirkan diri sendiri? 

Tsu....tsu.....nami!!


Overall, San Andreas adalah disaster movie yang menampilkan parade efek-efek khusus yang sangat memukau, membuat penontonnya harap harap cemas dan merasa tegang dari awal film dimulai. Lupakanlah betapa mustahilnya proses orang tua ini dalam menyelamatkan putrinya. Makan popcorn dan nikmati dahsyatnya bencana yang dihadirkan di San Andreas. This is the most spectacular disaster movie in this year so far yah. 

Oh iya, saya menemukan artikel yang berjudul "Terlalu Berlebihan, San Andreas Dikritik Ilmuwan". Klik jika ingin tahu

Happy watching!

Rating
7/10

Makasih udah mampir, sampai jumpa di post selanjutnya ya ^^

Pake high heels, lompat dari reruntuhan gedung-gedung....



Director: 
Leigh Whannell

Writers:
 Leigh Whannel

Stars: 
Dermot Mulroney, Stefanie Scott, Angus Sampson, Lin Shaye, Leigh Whannel



Sinopsis: 
Film ini mengisahkan tentang Elise Rainnier, seorang paranormal yang harus mengeluarkan kekuatannya meskipun sudah pensiun untuk menolong seorang gadis yakni Quinn Brenner yang terjebak didalam The Further (dunia lain). Awalnya, Quinn hanya ingin berkomunikasi dengan ibunya yang sudah tiada, tetapi ternyata ada makhluk lain yang mengganggu Quinn. 

Lumayan creepy juga ini...


Review:
Insidious: Chapter 3 ini bukan kelanjutan dari seri pendahulunya, melainkan prekuel, mengisahkan tentang kehidupan Elise sebelum kejadian keluarga Lambert. Berbeda dari dua film selanjutnya, film ini tidak lagi di sutradarai oleh James Wan, tapi oleh Leigh Whannell. Jujur, setelah announce bahwa Wan tidak lagi menyutradarai Insidious: Chapter 3, saya tidak begitu optimis, tapi tetap sih akan saya tonton juga. 

The Man Who Can't Breath

Insidious: Chapter 3 adalah seri terlemah dibanding dua film sebelumnya. Selain James Wan sudah tidak menyutradarai, cerita film ini juga lemah. Porsi untuk melihat kisah Elise dan keluarga Brenner ini kurang pas, kurang digali kembali. Banyal hal yang aneh juga menurut saya, seperti perempuan tua pencinta kucing yang meninggal kemudian tiba-tiba kasih tau Elise apa yang ibunya Quinn ingin sampaikan, adiknya Quinn yang entah kemana padahal Quinn selalu jejeritan setiap saat, ujug ujug di akhir terlihat peduli banget. Tidak penting sih memang, saya yang kurang kerjaan melihat sampai kesana :))

Elise sedang berada di 'The Further' 

Yang paling menarik adalah si evil ghost "The Man Who Can't Breath" yang visualisasinya creepy banget. Sayang, tidak dijelaskan siapa dia. Mungkin dijelaskan di chapter-chapter selanjutnya? 
Bagi pencinta momen jump scare pasti kegirangan nonton film ini (kaya saya). Leigh Whannel tahu betul bagaimana bikin penonton lompat dari kursi bioskop. 

Elise menggunakan kekuatannya kembali untuk menolong Quinn


Kalau untuk membangun atmosfer seram, James Wan lebih baik. Hantu-hantu di film ini juga tidak seseram pendahulunya. Beruntung juga sebelum saya nonton film ini, saya tidak melihat trailernya terlebih dahulu, karena banyak yang bilang momen seramnya sudah ditayangkan di trailer (sampai sekarang juga belum liat trailernya :D). 

Overall, Insidious: Chapter 3 adalah seri terlemah dari dua film pendahulunya. Penceritaan yang lemah, chemistry keluarga Brenner yang menurut saya kurang, saya tidak peduli dengan apa yang terjadi terhadap keluarga mereka. Whannel juga hanya menjual momen-momen jump scare saja ketimbang membangun atmosfer yang seram. Untung saja menjelang akhir ada Tucker dan Specs yang kembali  bisa membuat saya tertawa setelah teror-teror penampakan yang sudah ada dari awal film dimulai.

KANGEN KOKO JAMES WAN!!!

Happy watching!

Rating
7/10

Makasih yah udah mampir, sampai jumpa di post selanjutnya! ^^



Halo^^

Pertama-tama, maaf ya foto concealernya agak gepeng gitu, sebenernya udah agak lama belinya, tapi baru sempet review sekarang :))



Concealer adalah hal yang wajib saya bawa kemana-mana. Saya pakai concealer juga hampir setiap hari setiap saya melakukan aktivitas. Concealer saya sebelumnya adalah dari Maybelline. Untuk harga, L.A Girl Pro Conceal HD ini lebih murah, makanya saya tertarik untuk mencobanya. Tapi tergantung dari seller ya, ada juga yang menjual dengan harga mahal. Nah, saya nemu online shop di Instagram yang menjual produk ini dengan harga murah, nanti saya sebutkan di bawah ya :)



Saya memilih shade Classic Ivory, karena satu tingkat diatas warna kulit saya. Oya, saran untuk memilih warna concelaer, pilih warna yang setingkat warna kulit ya, jangan terlalu terang dan jangan terlalu gelap juga :) 
Kemasannya berupa tube dengan aplikator berbentuk brush. Kemasannya juga pas untuk dibawa kemana-mana. Tapi yang bikin saya jengkel adalah.... entah kenapa susah sekali untuk mengeluarkan isinya, harus di pencet lumayan keras baru keluar, dan kadang mengeluarkan air (saya juga bingung). Saya tidak tahu apakah saya saja yang merasakan bahwa harus ekstra tekan agar keluar? Setelah saya tekan agak keras, isinya juga terkadang keluar kebanyakan, harus pake feeling kayaknya huhu.



Untuk hasil saya suka sekali dengan shade Classic Ivory ini. Ketika saya memakai dari Maybelline, saya suka dengan hasil awalnya, tapi jika dipakai dengan aktivitas yang lama dan berkeringat bawah mata saya jadi terlalu putih. Untuk produk ini sih saya pake aktifitas keringetan ngga masalah ya.

Untuk pengaplikasiannya, kalian bisa memakai brush lagi atau bisa langsung dri brush aplikator dari L.A Girl Pro. Concealer-nya sendiri. Kalau saya biasanya saya taruh di tangan saya lalu saya totol-totol ke bagian wajah yang ingin saya pakaikan concelaer, tapi sering juga saya pakai langsung dari brush aplikatornya. 



Overall, saya sangat suka dengan coverage produk ini, menyatu dengan warna kulit saya. Untuk aplikator saya lebih suka yang seperti Maybelline, saya tidak terlalu suka dengan brush aplikator seperti ini. Tapi balik lagi ya, selera orang beda-beda. Selamat mencoba! ^^



Harga: Rp. 60.000
Beli di: Makeupucinno (instagram)

Love:
- Hasilnya pas dengan warna kulit
- Kemasan bisa dibawa kemana-mana
- Harga bersahabat

Hate:
- Baunya ngga suka
- Isinya susah keluar, harus tekan agak kencang
- Saya lebih suka aplikator seperti brush Maybelline

Repurchase: Yes
Rating: 7,5/10



Halo halo, maaf ya udah lama ngga review tentang beauty product. Kali ini saya mau review product terbaru dari Silkygirl yang baru diluncurkan sekitar awal tahun 2015. Siapa yang bibirnya suka kering banget? *ANCUNGIN TANGAN*. Bibir saya emang kering banget, jadi saya selalu hati-hati setiap beli lipstick. Yap, saya tidak terlalu suka dengan lipstick yang matte, belum 1 jam saja pasti bibir saya udah kering dan mengelupas :( Nah, ini solusinya.. Silkygirl Moisture Boost Lipcolor Balm. 





Lipcolor Balm ini mempunyai tekstur yang sangat ringan dan juga melembabkan. Jangan dikira karena ini hasilnya agak glossy terus warnanya ngga tahan lama. Lumayan awet loh lipcolor ini, kalau untuk dipakai makan minum ya memang harus memakai lagi, tapi not bad kok. Kalau mau lebih tahan lama coba di swatch 2-3 kali. Biasanya saya cukup swatch sekali saja warna sudah keluar.


Untuk pilihan warnanya, ada 6 pilihan warna. Saya memilih Coral karena kata mbak yang jaga counter warna ini best seller dan pas di swatch ke bibir saya memang cocok, sangat pas untuk dipakai kegiatan sehari-hari. 

Without 


With Silkygirl Boost Lipcolor Balm (Coral)



Silkygirl mengklaim bahwa produk ini tidak mengandung pewangi, pengawet, pewarna, dan no animal testing. So, aman banget buat dipakai sehari-hari. Packagingnya lucu banget, mirip sama Revlon Colorburst Matte Balm, tapi saya lebih suka packagingnya Silkygirl :)

Overall, saya suka banget sama produk ini. Tidak membuat bibir saya kering, melembabkan tapi tidak terlalu glossy juga hasilnya seperti lipgloss. Harga juga murah, dibawah 70k. Recommended buat kalian yang punya bibir kering seperti saya. Silahkan dicoba :)



Harga: Rp. 59.000 
Beli di: Matahari Citraland Mall Jakarta

Love:
- Harga terjangkau
- Mudah ditemukan
- Melembabkan

Hate:
- Belum ada

Repurchase: Yes!
Rating: 8/10








Terimakasih sudah mampir, sampai jumpa di post selanjutnya! ^^


Sutradara:
Hanny R. Saputra

Penulis:
Baskoro Adi Wuryanto

Pemain:
Ririn Ekawati, Dimas Seto, Ririn Dwi Ariyanti

Sinopsis:

Dejavu bercerita tentang Myrna (Ririn Ekawati) menjadi perawat pribadi Sofia (Ririn Dwi Ariyanti) di sebuah rumah tua. Sofia hanya tinggal berdua dengan suaminya, Yudo (Dimas Seto). Setelah menginjakan kaki dirumah itu, Myrna merasa dejavu, seperti pernah berada disana. Dirumah itu, Myrna selalu diganggu oleh sesuatu yang misterius. Misteri apakah yang terjadi di rumah itu? Silahkan ditonton ya :)

Sofia, istri dari Yudo setelah mengalami kecelakaan jadi berbeda



Review:

Image film horror di Indonesia itu ngga ada baik-baiknya. Terbukti dari salah satu fanpage pencinta film Indonesia, ketika mereka share film-film real horror yang tayang di Indonesia rata-rata komennya selalu "Ah, paling horor bokep". Atau "Ah, ada buka-bukaannya ngga? Males banget nonton kaya gitu di bioskop". Agak susah bikin pikiran masyarakat Indonesia kalo horror esek-esek itu sudah mulai berkurang, sangat berkurang malah. Tahun ini diisi dengan horror yang real horror. Dari dulu saya emang sangat menyukai film (real) horror Indonesia. Katakanlah film-film Alm Suzanna, dan tahun 2000-an muncul Jelangkung. Jika menurut saya film itu menarik, saya akan bela-belain nonton film horror Indonesia di bioskop. Salah satunya Dejavu: Ajian Puter Giling ini.


Myrna, si perawat yang merawat Sofia

Ceritanya menarik, saya sendiri belum pernah mendengar Ajian Puter Giling itu apa. Film ini mencampurkan unsur urband legend juga. Tidak jelek memang, tapi tidak bisa dibilang bagus juga. Untuk momen jump scare saya akuin Hanny menampilkannya dengan tidak norak. Saya suka penampakan-penampakan yang cukup membuat saya merinding itu. 

Dari segi akting, ketiganya tampil memuaskan. Saya sudah suka Ririn Ekawati dari dia tampil di ftv salah satu stasiun televisi lokal. Saat berperan di film "Dibalik 98" juga aktingnya sangat memukau. Semoga saya bisa sering melihat Ririn Ekawati di film-film Indonesia selanjutnya. Ririn Dwi Ariyanti juga cukup meyakinkan berperan sebagai Sofia, seharusnya karakter Sofia mendapat lebih banyak perhatian. Dimas Seto juga berperan baik sebagai Yudo.

Sedang melakukan ritual 'Ajian Puter Giling'


Saya ngerasa aneh dalam dialognya, apa ya.. Kerasa aneh aja buat didenger. Twist yang dihadirkan lumayan, walau menurut saya tidak begitu shocking. Karena dari poster pun sebenernya kita udah dikasih tau Sofia itu 'apa'. :))



Overall, terlepas dari kekurangannya, Dejavu: Ajian Putar Giling ini worth it buat ditonton di bioskop loh. Saya juga sekarang tau salah satu urband legend Indonesia yang bernama Ajian Puter Giling ini sebenernya apa. Kemarin saya nonton film Haunt (2014) dan percayalah, saya lebih menikmati nonton Dejavu daripada film horror luar negeri itu. Film ini tidak bisa dibilang jelek, tapi tidak bisa dibilang bagus juga. Tapi, nice try. Silahkan nonton di bioskop-bioskop kesayangan kalian ya.


Happy watching!

Rating:
6.9/10

Terimakasih sudah mampir, sampai jumpa di post selanjutnya ya! ^^




Director:
Mac Carter

Wrtiter:
Andrew Barrer

Stars:
Jacki Weaver, Liana Liberato, Harrison Gilbertson


Sinopsis:

Haunt bercerita tentang sepasang suami istri dan ketiga anak mereka memutuskan untuk pindah ke sebuah rumah baru. Rumah baru yang mereka tempati ternyata memiliki kisah yang misterius. Anak laki-laki mereka, Evan berteman dengan putri tetangganya bernama Sam. Keduanya sering bermain radio tua di loteng rumah Evan. Tanpa disadari radio tersebut bisa menjadi alat komunikasi kepada arwah-arwah yang sudah mati. Teror akhirnya mulai menghantui mereka.




Review:

Rumah berhantu yang memiliki kisah kelam didalamnya. Haunt ini ceritanya standar dengan film-film rumah berhantu lainnya. Pembedanya adalah bumbu-bumbu romantis remaja yang menurut saya tidak usah terlalu dieksplor terlalu lama karena membosankan. Saya lebih penasaran apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu. 



Ada adiknya yang kerap 'mengobrol' sama salah satu arwah, yang sayang hanya ada di awal saja. Bahkan Morello yang memiliki peran penting dan jawaban atas misteri di rumah itu hanya memiliki porsi sedikit. Banyak jump scare basi. Kaget? Pasti iya. Saya ini pencinta momen jump scare loh, tapi di film ini basi banget cara ngagetinnya. Saya lebih suka film Indonesia yang kemarin saya tonton, Dejavu (Ajian Puter Giling). 

Atmosfir yang dibangun di rumah itu sebenernya menjanjikan, tapi sayang, terlalu banyak jump scare murahan dan kisah romansa antara dua pemeran utama remaja yang menurut saya terlalu dipaksakan. Twist yang dihadirkan pun tidak terlalu mengagetkan saya. 



Overall, saya kecewa sama film ini. Banyak karakter yang harusnya bisa dieksplor dengan baik, tapi film ini hanya fokus ke kisah percintaan remaja dan misteri dari rumah tersebut. Terlalu banyak momen jump scare basi yang sedikit mengagetkan saya, tapi itu tidak seram. Film yang mudah dilupakan. 

Happy watching!

Rating
6/10

Makasih yah sudah mampir, sampai jumpa di post selanjutnya! ^^
Powered by Blogger.